Salah Persepsi jadi Tantrum



Menyampaikan metode pendidikan memang tidak semudah membalikkan tangan. Perlu trik-trik khusus agar diterima. Apalagi kepada remaja yang beranjak dewasa. Mencoba sharing ilmu adalah salah satu metode pembelajaran. Ilmu disampaikan dengan seakan-akan kita sedang bercerita, atau mungkin merangsang mereka dengan opini-opini dari mereka.

Hari ini saya mencoba untuk merangsang kemampuan teknologi seorang remaja yang telah lulus SMA. Kebetulan di sekolahnya dulu tidak begitu dikenalkan teknologi. Jadi perlu memulai dari awal. Saya sudah memasuki tahap pertengahan, peserta didik ini telah menguasai teknik mengoperasikan gadget. Tinggal teknik pemanfaatan. 

Kasus yang saya alami hari ini, peserta didik kurang memunculkan rasa ingin tahu dalam mencari informasi di internet. Dia hanya menerima perintah tutorial saja. Selain itu permasalahan juga pada kurang memahami bagaimana seharusnya dia memanfaatkan search engine atau mesin pencari. Hal ini akan menyebabkan peserta didik terlambat mendapatkan informasi terbaru, kena hoax, susah mendapat informasi akurat.

Peserta didik hendak mengikuti seleksi ujian masuk di lembaga belajar. Namun dia hanya menunggu tutor untuk mendaftarkan. Nah, dari sini saya coba untuk sedikit tegas, sebab ada catatan bahwa peserta didik ini terlalu cuek, dan ingin instannya saja.

Teknik yang saya gunakan.
  • Menanyakan apakah dia telah mendapatkan contact person atau administrasi bagian pendaftaran dan informasi.
  • Bila sudah, maka meminta peserta didik mencoba menghubungi CP tersebut untuk info dan cara pendaftaran.
  • Mengkonfirmasi sejauh mana pemahaman peserta didik akan informasi yang diterima.
  • Mengevaluasi pemahaman dengan mempersilahkan peserta didik mengikuti langkah-langkah pendaftaran yang telah disampaikan CP.
Namun kendala yang dihadapi justru "Salah Persepsi" dari peserta didik, dimana dia berfikir saya pelit info. Saya memang tidak memberikan secara instan cara mencari informasi pendaftaran. Namun disini saya mencoba merangsang kemampuan mencari dan mengolah informasinya. Sayangnya orang tua peserta didik juga kurang mendukung teknik saya. Orang tua peserta didik juga menginginkan agar langsung dikasih tau cara mendaftarnya. Sehingga ada sedikit crash, perlu penjelasan berulang-ulang.

Saya sampaikan untuk mencoba menghubungi dan bertanya kepada CP dengan bahasa dia sendiri. Hal ini akan melatih peserta didik untuk kreatif mengolah bahasa. Sehingga dia kreatif untuk memanfaatkan search engine. Peserta didik akan mudah memunculkan kata-kata kunci untuk diketik di search engine agar bisa menunjukkan hasil yang sesuai dengan yang dia cari.

Meski harus terjadi secara dramatis, peserta didik ngambek, tetap harus dijalankan. Memang saya harus sedikit tak peduli dengan ngambek tantrum. Agar dia terbiasa, sebab dia sudah memasuki masa perkuliahan, dimana mahasiswa bukan lagi siswa yang dituntun dalam memperoleh ilmu. Harus aktif kreatif mencari informasi. Tidak boleh takut mencoba, dan berfikirlah sebelum bertindak.

Semoga dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. Aamiin
WaAllahu A'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar